Sabtu, 19 Mei 2012

Desain Interior dan Lingkungan Kantor


BAB I
PENDAHULUAN

Dari dulu banyak organisasi yang mengalami kesulitan dalam mengatur serta menata ruang kantornya sendiri. Kesulitan tersebut disebabkan oleh langkanya pegawai yang mempunyai keterampilan dan keahlian di bidang merancang tata raung kantor. Namun demikian, beruntunglah pada akhir-akhir ini sudah semakin banyak orang yang memahami tentang masalah ini. Manajemen mulai menyadari betapa pentingnya nilai perencanaan serta rancangan ruangan yang serasi.
Permasalahan dalam penataan ruangan kantor dan sekitar kantor ini berbeda-beda dilihat dari kompleks ruang lingkupnya, sehingga pemecahannya harus dibina dengan akal sehat atau logika, misalnya, perubahan prosedur yang terbatas, karena prosedur yang terbatas akan lebih banyak mempengaruhinya daripada suatu perubahan penataan perabotan. Perancang atau perencana tata ruang harus bekerja sama secara erat dengan para peneliti dan arsitek dan ahli-ahli lainnya dalam menata Desain Interior Kantor dan lingkungannya.
Pengertian tentang perencanaan ketataruangan atau Desain Interior Kantor ini didasarkan pada aliran atau jalannya pekerjaan yang timbul dari hasil penelitian kerja dalam kantor. Suatu aliran pekerjaan yang telah disempurnakan dapat mengurangi hambatan atau dapat bergerak lebih lancar, mengurangi biaya-biaya dan meningkatkan hasil (output).[1]
Ruangan perkantoran tidaklah murah dan tidak mudah diperoleh, oleh karena itu pertimbangan yang seksama sangat diperlukan terhadap bagaimana pemanfaatannya dalam hubungan dengan penempatan perlengkapan dan menentukan dan membagi ruangan kerja bagi para pegawai. Dalam menata lingkungan fisik kantor dan pelayanan perkantoran dengan mempunyai kompetensi tersebut, dapat memperoleh manfaat bagi para penghuni kantor bagaimana menata ruang kantor, sehingga pekerjaan kantor dapat diselesaikan secara baik dan nyaman dalam melakukan pekerjaan. Tingkat produktivitas pegawai yang tinggi merupakan harapan semua organisasi atau perusahaan dan lingkungan kantor yang sesuai akan mendukung tercapainya tujuan tertentu. Dalam harapan tersebut diikuti dengan ruang penyimpanan dokumen atau arsip yang nyaman, ruang kerja yang bersifat personal sampai pengaturan kabel yang digunakan dalam ruang kantor.



                                                                     BAB II
                                                             PEMBAHASAN                              

A.    Desain Interior
Arti desain interior menurut para ahli ada yang berbeda-beda, menurut Alexanser C yang merupakan seorang peneliti desain mengartikan desain interior adalah komponen fisik yang tepat dai suatu struktur fisik. Sedangkan menurut Bruce Acher yang merupakan seorang desaigner mengatakan desain adalah suatu aktivitas pemecahan masalah yang diarahkan pada suatu tujuan (goal).
Dari definisi yang disebutkan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Desain Interior adalah proses pemecahan masalah pada komponen-komponen fisik dari suatu struktur secara sistematis untuk mencapai kesesuaian suatu tujuan.[2] Ada juga pengertian desain menurut D.K. Ching sebuah perencanaan tata letak dan perancangan ruang dalam di dalam bangunan. Dimana keadaan fisiknya memenuhi kebutuhan dasar kita akan naungan dan perlindungan, mempengaruhi bentuk aktivitas dan memenuhi aspirasi kita dan mengekspresikan gagasan  yang menyertai tindakan kita, disamping itu sebuah desain interior juga mempengaruhi pandangan, suasana hati dan kepribadian kita. Oleh karena itu tujuan dari perancangan interior adalah pengembangan fungsi, pengayaan estetis dan peningkatan psikologi ruang interior.
Kedudukan desain interior terletak diantara teknik dan seni, karena tanpa adanya teknik dan seni maka desain tidak akan menarik untuk di pandang. Suatu desain yang tidak mempertimbangkan aspek teknik berarti mengabaikan aspek konstruksi akan mngakibatkan desain yang dihasilkan tidak akan aman dipergunakan dan pasti akan mengakibatkan kecelakaan bagi penggunanya.
Desainer interior adalah seseorang yang melakukan pekerjaan perancangan interior. Desain Interior tidak sama dengan dekorasi. Jika arsitektur digambarkan sebagai seni dan ilmu mendesain struktur untuk interaksi manusia, maka Desain Interior dapat diartikan sebagai seni ilmu dalam memahami kebiasaan manusia untuk menciptakan ruang fungsional dalam struktur yang dirancang oleh arsitek. Jadi focus perhatian desain interior yaitu menyangkut berbagai aspek yang terkait dengan kegunaan ruang.
Karyawan atau klien sebagai pemakai ruang merupakan titik tolak perancangan, sehingga segala sesuatu yang terkait dengan aktivitas mereka dalam ruangan yang akan di desain harus betul-betul teridentifikasi dengan baik agar kepuasan klien dapat terpenuhi. Untuk itu desainer juga harus memiliki data diri dari klien tersebut meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, hobi, warna kesukaan, gaya yang diinginkan,  kesan ruang yang diharapkan dan sebagainya. Dengan data yang lengkap maka perumusan desain menjadi lebih terarah.
The American Society of Interior Designers (ASID) mendefinisikan mengenai interior designer sebagai seseorang yang memiliki kriteria sebagai berikut: "Interior designer is professionally trained to create a functional and quality interior environment. Qualified through education, experience and examination, a professional designer can identify, research and creatively resolve issues and lead to a healthy, safe and comfortable physical environment."
Pendapat diatas menjelaskan bahwa  desainer interior adalah seorang yang terlatih secara profesional untuk menciptakan lingkungan interior yang fungsional dan berkualitas. Karena telah terkualifikasi melalui pendidikan, pengalaman dan ujian, seorang desainer interior dapat mengidentifikasi, meneliti dan secara kreatif memecahkan permacalahan dan mengarahkan perancangan menuju lingkungan fisik yang sehat, aman dan nyaman.
Desainer interior bertanggung jawab dalam  berbagai hal meliputi: pengorganisasian ruang untuk menyelaraskan dengan fungsinya, meyakinkan bahwa  desain yang dibuat match atau sesuai dengan penggunaan kode keamanan bangunan, mengatur konstruksi dan penerapan desain, bahkan juga mendesain transmisi akustik dan tata suara. Seorang  desainer interior juga dituntut tanggungjawabnya dalam memilih dan menentukan peralatan, perabot, produk, bahan dan warna yang digunakan dalam perancangan interiornya.
Desainer interior tidak bekerja atas dasar keinginan dan selera pribadi, akan tetapi segala sesuatu yang didesain bertitik tolak pada keinginan dan harapan klien sebagai konsumen yang meminta jasa desainer interior. Untuk dapat memahami keinginan dan harapan klien atas desain yang  dipercayakan penggarapannya pada desainer, maka perlu dilakukan komunikasi yang intensif serta identifikasi fisik bangunan yang cermat.
Seorang desainer interior juga dapat memanfaatkan ilmu yang dimiliki sebagai pengajar.  Pendidikan seni dan desain berkembang dengan pesat di seluruh negara, yang membutuhkan instruktur yang memiliki kualifikasi tinggi. Akan tetapi, seorang praktisi desain interior yang memiliki kualifikasi tinggi belum tentu memiliki kualifikasi dalam mengajar, sehingga perlu hati-hati dalam memilih profesi ini karena diperlukan juga pengetahuan mengenai cara mengajar yang baik.[3]
B.     Desain Interior dan Lingkungan Kantor
Desain Interior Kantor merupakan elemen-elemen atau furniture yang terdiri dari benda-benda interior rumah yang di kreasikan oleh para arsitek untuk melengkapi kebutuhan bangunan-bangunan atau gedung-gedung perkantoran.
Menggunakan furniture yang tepat bisa menjadi factor pendukung utama dalam menetapkan gaya desain yang dipilih untuk sebuah ruangan. Namun selain itu, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan yaitu desain pembentukan ruang interior yang bisa menghadirkan sensasi ruangan secara keseluruhan yang ada pada plafon (atap), dinding dan lantai.
Dalam Desain Interior Kantor, setiap orang mempunyai keinginan dan karakter yang berbeda-beda. Mereka menginginkan suasana kantornya berbeda dengan kantor-kantor yang lain dan ingin terlihat unik dan serasi. Karena di zaman modern ini banyak para pengusaha baru yang mendirikan kantor-kantor dan tidak mau kalah saing dengan kantor terdahulu. Oleh karena itu, dalam Desain Interior Kantor memerlukan kreatifitas yang cukup tinggi agar tercipta suasana dan desain yang di inginkan.
Yang berhak dalam ikut serta dalam menata Desain Interior Kantor adalah arsitek, pemilik kantor atau perusahaan dan ahli pendesain interior atau desainer. Jadi desain interior da kingkungan kantor adalah perencanaan penyusunan letak-letak ruangan-ruangan atau unit-unit tempat kerja suatu kantor dengan setepat-tepatnya demi memperlancar komunikasi kerja pegawai serta mempermudah koordinasi dan pengawasan.
C.            Design Interior dan Lingkungan Kantor
Hal yang paling menunjang terciptanya suatu Desain Interior Kantor adalah untuk menciptakan suasana nyaman bagi para penghuni kantor ataupun tamu yang berkunjung ke kantor tersebut. Bukan hanya itu saja, apabila Desain Interior Kantornya sangat menunjang maka bisa menambahkan semangat para karyawan dalam bekerja.
Kebutuhan dalam Desain Interior Kantor sangatlah berbeda-beda, tergantung dengan si pendesain atau arsiteknya. Setiap orang yang ingin membangun suatu usaha atau perusahaan pasti memiliki visi dan misi masing-masing sesuai dengan tujuan yang akan mereka capai nantinya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Desain Interior Kantor, yaitu :
1.      Ruangan
Penetapan ruang dan furniture kantor dan benda-benda furniture yang dibutuhkan oleh kantor. Dibagian lobby atau receiption juga perlu di Desain Interior, karena area ini sangat mempengaruhi tampilan citra dari perusahaan. Maka dari itu sebaiknya Desain Interior Kantor di area ini di desain sebaik mungkin dan untuk lebih idealnya dalam proses Desain Interior Kantor pemilik perusahaan memberikan informasi atau intruksi kepada Arsitek Desain Interior agar dapat menghasilkan Desain Interior Kantor yang baik dan sesuai dengan tampilan citra perusahaan. Selain informasi dari pemilik perusahaan saat proses Desain Interior Kantor, pemilik perusahaan juga dapat melakukan pembahasan mengenai Arsitek Desain Interior Kantor yang akan dikerjakan. Hal ini dilakukan agar terjalin kesepakatan yang baik antara para pekerja dan si pendesain, karena setiap ornament-ornamentnya dapat diperhatikan dan apabila terdapat kekurangan maka bisa langsung diperbaiki.
Dalam menata Desain Interior Kantor terdapat beberapa tips penataan, diantaranya :
a.       Plafon
Agar plafon (atap) dapat terlihat menonjol, maka bisa menggunakan gaya desain plafon turun (drop celling) Dengan bagian sudut plafon diberi ukiran dengan sedikit lighting warna kuning hangat atau biru agar terlihat agar terlihat cantik pada tingkatan kedua dari plafon turun.
b.      Dinding
Untuk mendapatkan ruangan interior bergaya klasik, kita bisa menggunakan wallpaper dengan motif floral (karangan bunga) pada bagian dinding tertentu dengan pilihan warna tertentu.
c.       Lantai
Menggunakan plafon dengan gaya drop celling dengan motif ukiran  dan cat dinding dengan warna terang atau dengan wallpaper motif floral atau tekstur garis vertical, maka bagian lantai bisa menggunakan batu alam Dengan warna krem.[4]
Langkah selanjutnya adalah pemilihan pintu pagar dan teralis pagar untuk Desain Interior Kantor. Dalam hal ini tidak terlalu rumit karena posisi pintu di sesuaikan dengan arsitek desainnya dan penepatannya harus sesuai karena di area lobby sering membutuhkan banyak ruang. Agar penempatan terliahat baik dan tertata rapi, sebaiknya di mulai dari menampilkan area receiption yang terdapat beberapa komponen seperti meja receiption, backdrop dinding sisi kanan dan sisi kiri, dan menyediahkan tempat majalah atau Koran, barang seni seperti patung, lukisan, lampu-lampu unik yang bergelantungan, dll.
Sedangkan untuk Desain Interior Kantor di dalam, factor yang paling diperhatikan yaitu kenyamanan para karyawan dalam bekerja. Agar tidak membosankan sebaiknya menambahkan factor keindahan untuk siapa saja yang melihatnya dan menjadikan suasana yang menyenangkan bahkan bisa mengurangi stress.
2.      Udara
Selain Desain Interior Kantor, lingkungan kantor juga sangat penting dalam factor pendukung suasana nyaman di sekitar kantor dan menambah semangat kerja para karyawan. Dalam lingkungan kantor tingkat produktivitas pegawai yang tinggi merupakan harapan semua organisasi atau perusahaan yang sesuai akan mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Menurut sterk dalam penelitian yang dilakukannya, telah ditemukan hamper 83% pegawai sangat mengharapkan adanya pencahayaan yang tepat, area kerja yang sesuai dan temperature udara yang nyaman. Hal ini dibuktikan  dengan data dokumen dan arsip yang telah disimpan dan di ikuti dengan ruang kerja yang bersifat personal.
Factor lingkungan kantor lainnya yang dapat mempengaruhi lingkungan fisik dan psikologi pegawai adalah kondisi udara di dalam kantor. Kualitas udara patut menjadi perhatian utama Manajer Administrasi. Beberapa factor udara yang perlu diperhatikan adalah:
v  Temperature udara. Temperature ideal yang digunakan pada ruang kantor adalah kurang lebih 3-4° Celcius, sehingga tubuh pagawai tidak terkejut ketika memasuki ruang kantor.
v  Tingkat kelembaban udara. Jika tingkat kelembaban udara sesuai dengan skala yang direkomendasikan, maka temperature pada perkantoran dapat diturunkan pada musim dingin dan dinaikkan pada musim panas tanpa mengurangi kenyamanannya.
v  Sirkulasi udara. Udara pada beberapa tempat kerja terutama yang peralatan kantonya menghasilkan panas harus ada sirkulasi udara untuk menghasilkan kenyamanan di dalamnya.
v  Kebersihan udara. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, terdapat juga faktor yang perlu diperhatikan yaitu kebersihan udara dalam kantor. Kebersihan udara menjadi pertimbangan besar, Karena bangunan akan menjadi lebih kedap udara dan pemakaian energy listrik lebih efisien.[5]
3.      Lingkungan yang sehat
a)      Ergonomics
Lingkungan kantor sedikit banyak aakan mempengaruhi fisik maupun psikologis pegawai ketika melakukan pekerjaannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi Manajer Administrasi untik menciptakan lengkungan kerja yang bisa membuat pegawainya bekerja secata efektif dan efisien, serta meminimalkan kemungkinan pegawai mendapatkan cedera ketika melakukan pekerjaannya. Oleh karena itu, dengan Ergonomics yang didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari efisiensi seseorang pada lingkungan kerjanya. Ergonomics membantu memastikan apakah tugas, peralatan maupun lingkungan kantor harus sesuai dengan kebutuhan pegawai.
b)      Smart Office
Tren teknologi masa kini yang memungkinkan dilakukan integrasi beberapa komponen lingkungan kantor, seperti pencahayaan, AC maupun konservasi energi melalui komputerisasi kantor. Bahkan beberapa teknologi perkantoran yang digunakan sebagian atau sepenuhnya telah terintegrasi ke dalam smart office seperti komunikasi data, pemrosesan data, pengontrolan lingkungan, keamanan, dan sistem pelindung kebakaran..
4.      System pencahayaan
Pencahayaan dilingkungan kerja baru sangat efektif apabila pegawai merasa nyaman secara visual akibat pencahayaan yang seimbang. McShane (1997) mendiskripsikan bahwa 80 hingga 85 persen informasi yang diterima pegawai di kantor adalah menggunakan indera penglihatan (mata), seperti membaca surat atau memeriksa nota tagihan pembayaran. Oleh karena itu sistem pencahayaan dalam kantor menjadikan sanagat penting dalam kenyamanan visual bagi pegawai dikantor karena akan mempengaruhi produktivitas mereka.
McShane juga menjelaskan empat jenis pencahayaan yang digunakan di kantor, antaranya ialah:
1.       Ambient lighting, pencahayaan yang digunakan untuk memberikan pencahayaan keseluruhan ruangan dan biasanya dipasang pada langit-langit ruang kantor.
2.      Task lighting, pencahayaan yang digunakan untuk menerangi area kerja seorang pegawai, misalnya meja kerja. Meskipun menawarkan lebih banyak kontrol bagi pegawai, namun jenis cahaya ini jaranga digunakan pada kantor-kantor di Indonesia karena alasan kepraktisan.
3.      Accent lighting, pencahayaan yang digunakan untuk memberikan cahaya pada area yang akan dituju. Biasanya jenis lampu ini dirancang pada lorong sebuah kantor atau area lain yang membutuhkan penerangan sehingga pegawai atau pengunjung tidak tersesat.
4.      Natural lighting, pencahayaan ini biasanya berasal dari jendela, pintu kaca, dinding, serta cahaya langit. Jenis cahaya ini akana memberikan dampak positif bagi pegawai, namun cahaya ini tidak selalu tersedia apabila dalam keadaan mendung atau gelap. Oleh karena itu, perusahaan perlu menggunakan sistem penyimpan cahaya matahari (solar energy saving system) sehingga jenis cahaya ini tetap dapat digunakan. Cahaya ini tidak mampu menjangkau lebih dalam ke area kerja, dan pada hari yang sangat terang, intensitas cahaya alami dapat mengakibatkan cahaya harus dikontrol. Apabila cahaya alami digunakan untuk menerangi area kerja, maka perlu dipertimbangkan dampak penggunaan temperatur udara terhadap ruang kerja. Karena cahaya alami menghasilkan panas, pendingin udara harus digunakan khususnya pada waktu musim panas untuk mengurangi efek panas tersebut.
Sementara itu, Quible (2001) menjelaskan bahwa ada empat jenis cahaya yang dapat digunakan di kantor, yaitu:
1.      Cahaya alami, pencahayaan yang berasal dari sinar matahari.
2.      Cahaya Fluorescent, cahaya fluorescent menjadi jenis cahaya yang lazim digunakan pada ruang perkantoran dengan tingkat terang yang mirip dengan cahaya alami. Meskipun pemasangannya lebih mahal dibanding dengan incandescent, cahaya ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu: memproduksi lebih sedikit panas dan silau, mengkonsumsi lebih sedikit listriknya, keterangan cahaya yang diberikan lebih tersebar. Keuntungan penggunaan jenis cahaya ini adalah mengurangi bayangan dan silau pada area kerja, karena keseragaman yang dihasilkan atap cahaya seperti ini digunakan untuk menghasilkan variasi cahaya pada area perkantoran.
3.      Cahaya Incandescent, cahaya ini paling sering digunakan di rumah, tetapi cahaya ini juga dapat digunakan secara efektif di perkantoran, meskipun Fluorescent lebih efisien. Cahaya Incandescent kadang kala digunakan untuk membuat panel cahaya tidak monoton dan untuk menarik perhatian pada beberapa area. Cahaya ini paling tidak efektif  jika dibandingkan dengan energi yang dikonsumsi, meskipun biaya pemasangannya lebih murah dibanding Cahaya Fluorescent. Kelemahan dalam cahaya Incandescent adalah tidak bertahan lama, warna yang dihasilkan tidak alami, memerlukan banyak listrik dan menghasilkan banyak bayangan serta silauan cahaya.
Dalam sistem pencahayaan juga terdapat karakteristik system penerangan, yaitu:
1.      Direct, dimana pencahayaan yang mengarahkan cahaya 90-100% secara langsung ke area meja, sistem ini akan mengakibatkan munculnya silau dan bayangan karena hanya sedikit cahaya yang tersebar.
2.      Semidirect, dimana pencahayaan cahayanya 60-90% yang diarahkan ke bawah dan sisanya diarahkan ke atas lalu dipantulkan kembali ke bawah. Sistem ini menghilangkan beberapa bayangan yang merupakan karakteristik sistem cahaya direct.
3.      Indirect, dimana cahaya yang disebarkan mengurangi bayangan dan silau yang ditimbulkan dari penerangan yang digunakan. Dengan sistem ini, 90-100% cahaya pertama diarahkan ke atas dan kemudian menyebar dan memantul ke bawah ke area meja.
4.      Semiindirect, dimana pencahayaan cahayanya yang mengarahkan 60-90% cahaya ke atas dan kemudian dipantulkan ke bawah dan sistemnya juga diarahkan ke area kerja. Meskipun sistem ini dapat menghasilkan jumlah cahaya yang lebih banyak, namun bayangan dan silau masih menjadi kendala bagi sistem semiindirect.
5.      General Diffuse, dimana pencahayaan cahayanya yang mengarahkan 40-60% ke arah area kerja dan sisanya diarahkan ke bawah. Meskipun sistem ini menghasilkan lebih banyak cahaya, namun bayangan dan silaunya juga lebih banyak daripada menggunakan semiindirect.
Ada juga system control cahaya otomatis yang mulai digunakan pada gedung perkantoran. Meskipun  tidak terlalu banyak yang mengintegrasikan ke dalam sebuah sistem manajemen, namun sistem ini juga mempunyai dampak positif pada konservasi energi dan memungkinkan perusahaan untuk menutup biaya pembelian dalam waktu singkat. Dalam perawatan system pencahayaan, lampu yang digunakan memberikan cahaya yang mulai berkurang output-nya. Penurunan output cahaya mulai terjadi kira-kira 100 jam penggunaan dan pada beberapa situasi, kadang kala lebih efektif mengganti lampu secara berkala pada area yang ditentukan.
Progaram pembersihan atap dan bagian permanen lain pada perkantoran secra berkala juga menjadi aspek yang penting dalam perawatan pencahayaan. Karena pada saat bagian tersebut semakin kotor, maka permukaan yang memantulkan cahaya tidak lagi efektif dan akan mengurangi keefktifan sistem penerangan.
5.      Warna
Warna adalah salah satu elmen penting dalam lingkungan perkantoran yang mempunyai dampak bagi pegawai. Meskipun sebagaian besar pegawai sadar akan dampak fisik warna, namun banyak yang tidak sadar akan dampak psikologisnya. Warna pada perkantoran tidak hanya mempunyai nilai estetika tetapi juga mempunyai nilai fungsi. Dalam pemilihan warna juga terdapat beberapa factor yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan warna di kantor (Quible, 2001), antara lain:
a.       Kombinasi warna. Kombinasi dari warna primer - kuning, merah, dan biru - menghasilkan warna sekunder.
b.      Efek cahaya pada warna. Karena berbagai jenis warna buatan mempunyai spectrum yang berbeda, system pencahayaan yang digunakan pada kantor juga memiliki efek yang signifikan terhadap warna. Sumber cahaya hanya akan  meningkatkan warna yang sesuai dangan spektrumnya.
c.       Nilai pemantulan warna. Beberapa warna memiliki nilai pemantulan yang berbeda. Contohnya, warna yang terang memantulkan presentase cahaya yang lebih besar daripada warna yang gelap.
d.      Dampak dari warna. Warna seringkali mempengaruhi mood. Warna sejuk – biru, hijau, dan violet – menghasilkan mood yang tenang dan melelahkan. Warna hangat – merah, orange, dan kuning – sebaliknya menghasilkan kehangatan dan keceriaan, dan lain-lain.
6.      Control suara
Tingkat kebisingan pada kantor merupakan factor lingkungan yang harus dipertimbangkan untuk mengelola tingkat produktifitas pegawai yang diinginkan. Apabila tingkat kebisingan melampaui batas yang tidak diinginkan, beberapa gangguan fisik dan psikologis terhadap mereka akan terjadi. Control suara pada perkantoran juga terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan dalam mengontrol kebisingan pada ruang kantor (Quible, 2001):
a)      Kontruksi yang sesuai. Jumlah kebisingan pada perkantoran dapat dikontrol dengan menggunakan teknik konstruksi bangunan yang efektif. Seperti suara yang merambat melalui udara seperti percakapan dan suara yang dihasilkan oleh beberapa peralatan.
b)      Penggunaan material peredam suara. Banyak jenis material peredam suara yang bisa digunakan, misalnya penutup atap, tembok, jendela dan lantai.
c)      Alat peredam suara, alat peredam suara itu dapat diletakkan pada beberapa mesin di perkantoran, seperti mesin tik atau primer dot-matrik. Alat lain yang dapat digunakan adalah penutup peralatan yang dapat meredam suara (misalnya karpet atau kain tebal) yang diletakkan pada mesin yang mengeluarkan suara.
d)     Masking. Masking hampir sama dengan suara yang terdengar ketika melewati lorong atau saluran yang biasanya digunakan untuk menyampaikan suara ke seluruh area kerja, seperti music yang lembut.
Control suara pada kantor terbuka Penggunaan open space memberikan tantangan baru pada control kebisingan. Alat masking suara juga dapat digunakan. Jika area kerja masih bising setelah menggunakan semua system pengontrolan suara, perlu dipertimbangkan untuk memberikan jarak yang ideal antar pegawai atau antar bagian sehingga tingkat privasi pembicaraan yang diingikan bisa tercapai.[6]
7.      Musik
Musik menghasilkan beberapa keuntungan, diantaranya membantu meningkatkan kepuasan kerja dan produktifitas pegawai dengan menghilangkan rasa bosan dan monoton dalam melakukan pekerjaan kantor. Musik juga memberikan efek menenangkan kelelahan mental dan fisik serta mengurangi ketegangan.  Musik juga mempunyai efek negatif terhadap tingkah laku karyawan, yaitu seringkali membuat karyawan melakukan kesalahan dan ketidakhadiran dalam bekerja.
8.      Keamanan kantor
Keamanan memiliki dua dimensi; keamanan barang-barang fisik perusahaan dan keamanan informasi penting (dokumen dan arsip) yang apabila hilang akan mempengaruhi jalannya aktivitas perusahaan. Apabila informasi penting perusahaan sampai ke tangan pesaing, hal itu dapat mengurangi kemampuan perusahaan untuk tetap bersaing dalam bisnis. Berikut ini adalah beberapa saran yang diberikan Rowh (2003) berkaitan dengan keamanan dikantor, yaitu :
1.      Penggunaan shredder (pengghancur dokumen kertas). Beberapa arsip / dokumen yang tergolong penting akan bernahaya jika jatuh ke tangan pihak yang tidak berkepentingan. Untuk itu penggunaan shredder sangat dibutuhkan untuk menjaga tingkat keamanan data / informasi dikantor.
2.      Penggunaan pengaman computer, baik desktop maupun leptop. Pengaman yang dapat digunakan pada peralatan tersebut adalah penggunaan meja, computer dengan pengaman, sofwer yang menghalangi penggunaan computer oleh orang yang tidak berkepentingan, hingga program bayangan yang akan mampu mengirimkan ping kepada computer yang lain.
3.      Pengguna pencatat waktu untuk mencegah pegawai “mencuri” waktu kerja. Dengan menggunakan kartu yang tepat , jadwak dan struktur yang jelas akan menjadikan pegawai sulit untuk “mangkir” dari tempat kerja. Bahkan pada beberapa perusahaan multinasional dipasang pengontrol waktu yang menggunakan ID sebagai pengindentifikasi pada pintu ruang kerja, sebingga dapat diketahui seberapa sering pegawai keluar masuk dalam sehari.
4.      System keamanan yang terintregasi. Setelah peristiwa bom WTC sebagaian besar perusahaan mengintregasikan system pengamananya dengan data personalia yang relative lengkap, sehingga tindakan criminal akan lebih dini dapat tertangani.
5.      Untuk mengakses data yang tersimpan dikompter biasanya digunakan password. Untuk memaksimalkan keamanan, paswerd bharus diganti secara berkala. Tingkat keamanan yang diberikan oleh perusahaan ditentukan oleh tingkat kepentingan dengan data atau informasi yang dimaksud.



KESIMPULAN

Desain Interior Kantor adalah perencanaan penyusunan letak-letak ruangan-ruangan atau unit-unit tempat kerja suatu kantor dengan setepat-tepatnya demi memperlancar komunikasi kerja pegawai serta mempermudah koordinasi dan pengawasan. Kegunaan Desain Interior Kantor juga untuk menciptakan suasana nyaman bagi para penghuni kantor ataupun tamu yang berkunjung ke kantor tersebut, dan apabila Desain Interior Kantornya baik dan sangat menunjang maka akan dapat menambahkan semangat para karyawan dalam bekerja. Yang perlu diperhatikan dalam Desain Interior Kantor adalah penataan ruang kantor, suhu ruangan, keadaan lingkungan kantor, dan suasana kantor.


[1] Ma’moeri, Endar, Administrasi Perkantoran, (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2000)
[2] The Liang Gie. Administrasi Perkantoran. (Yogyakarta;Liberty, 2007)
[3] Wealle, Marry G, Environmental Interior, (New Yok: Maxmillan Publishing Company.,1982). Hal 12

[4] Sijanggut, Dasar Desain Interior Rumah/Kantor nan Minimalis, (Bandung; CVAstro, 2009)
[5] Soetrisno, Administrasi Perkantoran, Prajabatan Golongan III, (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara ,2001)

[6] Neuner, J.J.W., Keeling, L.B. ,Modern Office Management, (Bombay: D.B. Taraporevola Sons & Co., Private Ltd. ,1978)

Manajemen Arsip

     Arsip adalah rekaman informasi dari aktifitas dan kegiatan suatu organisasi. Arsip dapat digunakan untuk perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dan kegiatan organisasi. dengan memanfaatkan arsip dapat dicapai tujuan manajemen yakni perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat serta pengawasan yang ketat. mengingat pentingnya arsip dalam suatu organisasi maka arsip harus dikelola dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip dan tujuan kearsipan yaitu dapat menyediakan arsip dengan cpat, tepat, lengkap dan efesien. Arsip diterima dalam bentuk apapun, seperti surat, formulir, laporan, gambaran, microform, maupun input/ouput 
computer

   Berdasarkan undang-undang nomer 7 tahun 1971 tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan, pasal 1 ayat a dan ayat b. menetapkan bahwa yang dimaksud dengan arsip adalah:
  • Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga-Lembaga Negara       dan Badan-Badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.
  • Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta atau perorangan, dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan dan kebangsaan.


    Pekerjaan atau kegiatan yang berkaitan dengan pengurusan arsip disebut manajemen kearsipan. Manajemen kearsipan adalah pekerjaan pengurusan arsip yang meliputi pencatatan, pengendalian dan pendistribusian, penyimpanan, pemeliharaan, pengawasan, pemindahan dan pemusnahan. Pekerjaan tersebut meliputi siklus hidup arsip (life cycle of archive).

    Manajemen kearsipan (record management) memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan arsip dalam segi penciptaan, lalu lintas dokumen, pencatatan, penerusan, pendistribusian, pemakaian, penyimpanan, pemeliharaan, pemindahan dan pemusnahan arsip. Tujuan akhir manajemen kearsipan ialah untuk menyederhanakan jenis dan volume arsip serta mendayagunakan penggunaan arsip bagi peningkatan kinerja dan profesionalitas institusi atau lembaga dengan biaya yang efektif dan efisien. 

    Yang dimaksud dengan nilai guna arsip adalah suatu tolok ukur penilaian bahwa arsip tersebut layak untuk disimpan. Penilaian layak simpan ini secara internasional ditentukan dengan metode ALFRED, yaitu;
A: Adminitratif : Penilaian arsip berdasarkan nilai administrasi yang dikandungnya.
L : Legal : Penilaian arsip berdasarkan nilai hukum yang dikandung arsip tersebut.
F : Fiscal : Penilaian arsip berdasarkan pada nilai keuangan yang dimiliki oleh arsip tersebut.
R : Reseach : Penilaian arsip dengan melihat pada nilai penelitian yang dikandung oleh arsip tersebut.
E : Education : Penilaian arsip berdasarkan pada nilai pendidikan atau pengetahuan yang dikandung arsip tersebut.
D : Documentary : Penilaian arsip berdasarkan pada nilai rekaman yang dikandung pada arsip tersebut.

  Sedangkan kearsipan adalah suatu proses penyimpanan arsip serta sistematis agar mudah ditemukan kembali, yang meliputi:
  1. penciptaan (pembuatan dan penerimaan)
  2. penyimpanan (filling)
  3. penemuan kembali (finding)
  4. penyelamatan (pengamanan)
  5. pemeriharaan dan perawatan)
  6. penyusutan arsip (pemindahan, penyerahan dan pemusnahan).
  Tujuan Pengelolaan Arsip:
1. Agar arsip terpelihara dengan baik, teratur, dan aman
2. Mudah mendapatkan kembali arsip yang diperlukan dengan cepat dan tepat
3. Menghindari pemborosan waktu dan tenaga dalam pencarian arsip
4. Menghemat tempat penyimpanan arsip
5. Menjaga kerahasiaan arsip
6. Menjaga kelestarian arsip
7.Menyelamatkan pertanggungjawaban tentang perencanaan, pelaksaan dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan masyarakat.


      Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui dalam manajemen arsip, yakni:
  1. Penyediaan arsip yang benar
  2. pelayanan arsip secara tepat
  3. penyajian informasi yang dapat disajikan secara tepat dan lengkap
  4. penggunaan biaya yang dapat dipertanggung jawabkan
   untuk memenuhi prinsip tersebut diperlukan kebijakan yang mengatur ketepatan dan keseragaman prosedur, SDM, sarana maupun aspek lain dalam pengelolaan arsip.

contoh penataan arsip:


jangan sampai mengalami hal seperti gambar dibawah ini: